Rabu, 22 Agustus 2012

BAMBOO GILA, Ambon


Penulis : Biasworo Adisuyanto Aka
Atraksi ini ditulis pada saat acara pembukaan 
Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional tahun 2010 di Ambon, Maluku Utara 

Bamboo Gila merupakan atraksi permainan olahraga tradisional asli rakyat Ambon, Maluku. Bamboo Gila merupakan pertunjukan olahraga tradisional yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Kota Ambon, bahkan hampir seluruh masyarakat Maluku mengenal jenis olahraga tradisional ini.

Jumlah personil dalam permainan olahraga tradisional Kota Ambon ini adalah sebanyak 11 orang. Tujuh orang sebagai pemegang dan pengendali kegilaannya bamboo. Sementara tiga orang lainnya berperan sebagai pembaca do’a dan memberikan menyan kepada bamboo tersebut, sedangkan satu orang berikutnya terlihat membawa tabuh  di tangan kiri dan pukul tabuh di tangan kanannya, sambil mengamati dari kejauhan.


Permainan bamboo gila sangat kental dengan unsur mistik. Karena dalam pelaksanaannya, sepotong bamboo inilah yang memegang peran sangat besar. Adapun ketujuh orang yang membawa bamboo dengan cara menghimpit diantara kedua lengan mereka, fungsinya hanya untuk mengendalikan bamboo. Semula, bamboo ini tidak memiliki kekuatan sama sekali. Namun dengan bacaan do’a-do’a dan memberikan kemenyan oleh tiga orang kepada bamboo tersebut, sedikit demi sedikit bamboo tersebut bergerak kuat kesegala arah.

Ketujuh orang yang menghimpit bamboo tersebut dengan kedua lengannya berusaha mengendalikan arah kemauan bamboo yang semakin lama semakin kuat bergerak tidak terkendali.

Permainan ini tidak sekedar terlihat menarik untuk ditonton, tetapi juga sangat menakutkan. Penonton yang semula berani melihat secara dekat, semakin menjauh dan merasa khawatir dengan amukan bamboo tersebut yang semakin menggila. Namun demikian, tujuh orang yang memegang bamboo tersebut berupaya sekuat tenaga berupaya mengendalikan amukan bamboo tersebut agar tidak mengarah kepada kepenonton.

Pertunjukan ini semakin lama semakin menakutkan seluruh pengunjung yang berada disekitarnya. Apalagi bamboo tersebut secara terus menerus diberi semacam jampi-jampi dan asap kemenyan. Bamboo tersebut semakin sulit dikendalikan.

Namun ketujuh orang sebagai pengendali bamboo tidak mau menyerah begitu saja. Dengan upaya maksimal, ketujuh orang tersebut berupaya menahan dengan sekuat tenaga bahkan beberapa orang dari ketujuh orang tersebut sampai terjatuh dan terlihat hampir tidak kuat mengendalikan amukan bamboo gila tersebut.


Ketika terlihat kekuatan dari ketujuh orang pengendali tersebut semakin melemah. Ketiga orang pembawa kemenyan berupaya mengakhiri kekuatan bamboo tersebut dengan bacaan jampi dan mengakhiri pemberian kemenyan kepada bamboo tersebut. Pada akhirnya, pertunjukan bamboo gila ini diakhiri dengan tersungkurnya ketujuh orang pengendali bamboo tersebut ke tanah secara bersama.

Selasa, 21 Agustus 2012

Permainan Kekean

Narasumber  :
Widji Santoso, Mojokerto

Kekean merupakan permainan olahraga tradisional yang dilakukan oleh kalangan anak-anak hingga remaja dengan menggunakan sebuah alat gasing, dan biasanya dilakukan oleh kaum pria. Permainan ini berkembang sangat baik di sebuah daerah Watesprojo Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto. Sebenarnya, permainan gasing seperti Kekean ini tidak asing di semua Wilayah Indonesia. Hampir semua anak laki-laki pernah mengetahui bahkan melakukan alat gasing secara mahir. Namun, sedikit berbeda dengan permainan Kekan ini walaupun jenis permainan ini menggunakan sebuah alat gasing sebagaimana yang dimainkan oleh kebanyakan anak-anak dan remaja.

Alat Gasing adalah berbentuk bulat yang terbuat dari kayu dengan ukuran tertentu, dan cara bermaiannya adalah dengan memutar gasing tersebut dengan seuah utas tali. Gasing tersebut dapat berputar karena di ujung bawah alat tersebut terdapat logam runcing yang menyatu dengan gasing. Kemampuan berputar dari masing-masing gasing sangat bergantung dari kemahiran se pemain. Semakin mahir, tentunya perputaran alat gasing tersebut semakin cepat dan lama.


Permainan gasing seperti yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja desa Watesprojo sudah semakin punah. Kegemaran anak-anak sekarang sangat berbeda, mereka lebih asyik bermain play station atau permainan-permainan elektrinik lainnya yang bagi mereka lebih menantang. Tetapi berbeda dengan situasi di desa Watesprojo Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto. Permainan tradisional dengan menggunakan alat gasing ini menjadi kegemaran anak-anak dan remaja di daerah tersebut.

Pemain kekean, biasanya dilakukan oleh  anak laki-laki dan para remaja pria yang berumur 9 – 16 tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan para pemain dapat juga dilakukan oleh orang dewasa, permainan inipun sering dilombakan pada acara-acara yang bersifat tradisi, kekean dilakukan paling sedikit 2 (dua) orang dan paling banyak adalah 4 (empat) orang pemain, permainan kekean ini tidak dimaikan secara beregu atau tim tetapi permainan ini dimainkan secara perorangan. Masing-masing pemain akan memperebutkan posisi atau gelar yang menentukan urutan pelemparan kekean, posisi atau gelar yang diperebutkan mulai dari bawah adalah MBOTEK ATAU PRAJURIT, PATIH, RATU dan RAJA, untuk menetukan posisi atau gelar maka diadakan undian bagi pemain, dengan cara melemparkan kekean secara bersamaan, dimana kekean yang berputar tidak lama (berhenti berputar paling cepat) maka dia akan menempati posisi atau gelar sebagai Mbotek, kekean pemain yang berhenti berputar kedua dia akan menempati posisi sebagai Patih, kekean pemain yang berhenti berputar ketiga  dia akan menempati posisi sebagai Ratu dan kekean yang berhenti terakhir maka dia akan menempati posisi sebagai Raja. 

Setelah para pemain menempati posisi atau gelar masing-masing, maka posisi atau gelar yang terbawah atau Mbotek melakukan pelemparan pertama yang disebut dengan istilah SOGO (Memberi umpan), apabila sogo telah dilakukan dan kekean milik Mbotek berhenti berputar sebelum pemain berikutnya melakukan pelemparan maka istilah ini disebut dengan LUR sehingga Mbotek harus melakukan pelemparan ulang atau memberi sogo ulang. Setelah Mbotek melakukan sogo kedua, maka giliran Patih yang melemparkan kekean miliknya dan harus mengenai kekean milik Mbotek ini disebut dengan istilah DITUJU, apabila kekean milik patih tidak mengenai kekean milik Mbotek maka secara otomatis Patih akan turun derajatnya menjadi Mbotek dan Mbotek akan naik derajatnya menjadi Patih maka pelemparan ulang akan dilaksanakan dari awal, akan tetapi apabila kekean Patih mengenai kekean Mbotek  dan kedua kekean tersebut berhenti berputar sebelum kekean milik Ratu dilemparkan maka terjadi DRAW, selanjutnya antara Mbotek dan Patih akan diadakan undian JET untuk memperebutkan posisi atau gelar Patih. Ada beberapa istilah JET dalam permainan ini yaitu JET SABYONG, JET SHOLAT  dan JET HIDUP.

Mbotek akan menawarkan kepada Patih untuk memilih undian Jet apa yang diinginkannya, apabila Jet Sabyong maka antara Patih dan Mbotek akan mengadu kekeannya mereka secara anteng-antengan ayau lama-lamaan berputar dan tidak dibenturkan, kekean yang berputar paling lama maka dia akan menempati posisi atau gelar Patih, apabila Patih memilih undian Jet Sholat maka pemenang akan ditentukan oleh posisi kepala kekean, yang mana pada saat kekean berhenti berputar kepala kekean akan menghadap kearah barat atau kiblat maka dia adalah pemenangnya, serta undian terakhir yaitu Jet Hidup yang mana kekean Patih dan Mbotek akan diadu dan dibenturkan, kekean yang berputar paling lama setelah benturan tersebut maka dialah yang menempati posisi Patih.

Setelah kekean Patih mengenai kekean Mbotek maka selanjutnya Ratu melakukan pelemparan yang dituju adalah kekean milik Patih, jika kekeam milik Ratu berhenti berputar bersamaan setelah mengalami benturan maka antara Ratu dan Patih akan diundi seperti yang terjadi antara Mbotek dan Patih, undian ini juga berlaku bagi Raja. Apabila kekean Mbotek, Patih dan Ratu tidak mengalami kendala atau masalah maka giliran selanjutnya Raja yang melemparkan kekeannya dan yang dituju Raja adalah kekean milik Ratu. Dalam permainan ini masing-masing pemain dituntut kejujuran serta sportifitas yang tinggi, bukan hanya itu, para pemainpun dituntut untuk jitu dalam melemparkan kekeannya kearah yang dituju serta dituntut mempunyai tenaga yang kuat untuk melemparkan kekean miliknya dan hal lain yang dituntut dalam permainan ini adalah sportif serta menghormati pemain yang gelar atau posisinya lebih tinggi. Setelah semua telah mendapat giliran dan perlombaan ini telah berakhir maka pertandingan akan dimulai dari awal lagi, kosekwensi dalam pertandingan ini tergantung dari perjanjian para pemain yaitu bisa yang kalah dalam pertandingan ini  menggendong yang menang atau lainnya.

Kekean mempunyai bentuk yang bervariasi seperti besar, kecil, lonjong maupun bulat dan ukuran kekean tergantung dari keinginan para pemiliknya, semakin besar ukuran kekean maka tenaga yang dikeluarkan untuk melempar semakin banyak, tetapi keuntungan yang didapat dari bentuk kekean yang besar adalah kestabilan yang di dapat jauh lebih stabil dalam berputar sedangkan kekean kecil tidak membutuhkan tenaga yang besar atau banyak tetapi kestabilan kekean kecil kurang dibandingkan kekean yang besar.

Kekean mengalami inovasi dari bentuk, bahan, ukuran hingga warna yang dibuat lebih menarik. Bahan yang digunakanpun semula berbahan dasar kayu karena perkembangan jaman, ada pula ditemukan kekean yang terbuat dari bahan dasar plastik. Didaerah Jawa Timur sebagian daerah masih menggunakan bahan kayu, Kayu yang baik dugunakan sebagai kekean adalah kayu pohon Pete, kayu pohon Jambu Biji, kayu pohon Waru dan lain-lain, karena dari pohon ini diharapkan kekean akan kuat tidak mudah pecah serta ringan, untuk menambah kekuatan pada kekean adalah dimana ujung ekor dan ujung kepala kekean tersebut diberi paku, pada bagian ujung ekor kekean biasanya paku berujung lancip dipasang, hal ini untuk mempermudah agar kekean tersebut berputar di tanah dengan maksimal serta ujung lancip paku tersebut diharapkan dapat memecahkan kekean lawan. Sedangkan pada kepala kekean diberi paku payung, ada beberapa keuntungan apabila kepala kekean diberikan paku payung, yaitu agar pada saat pelemparan kekean, tali tidak gampang atau mudah terlepas sehingga perputaran kekean dapat dibalik pada saat pelemparan, kepala kekean yang berpaku payung dihadapkan pada posisi keatas, hal ini dimaksud untuk membuat kekean lawan yang akan diarahkan pada kekean kita mengalami keretakan, cacat atau pecah.

Hal inipun terjadi pada tali pelontar pada kekean yang semula dari pelepah pohon pisang yang dikeringkan dan di anyam seperti tali, namun kini mengalami perubahan, tali yang sekarang digunakan adalah berupa tali nylon atau sumbu kompor, ukuran serta panjang tali masing-masing tergantung dari keinginan pemain, tidak ada ketentuan yang mengatur hal tersebut. Pemasangan tali kekean ditanganpun mempunyai beberapa cara, salah satu yang terlihat didalam gambar, tetapi ada juga yang mengunakan cara yang bervariasi tergantung dari pemain yang merasa nyaman untuk mengkaitkan ke tangan mereka. Hal ini untuk mempermudah pemain melakukan pelemparan kekean dan mendapatkan pelemparan yang maksimal serta tali yang terikat di tangan tidak mudah terlepas.

Permainan tradisional kekean ini tidak membutuhkan tempat/lapangan yang luas, tetapi dengan ukuran tanah lapang panjang 5 meter dan lebar 5 meter serta tidak berumput maka permainan ini dapat dilakukan, tak jarang permainan inipun dilakukan di halaman rumah atau persawahan yang telah selesai di panen. Di daerah Mojokerto permainan ini telah dikenal hampir seluruh lapisan masyarakat, akan tetapi sering dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi maka berangsur-angsur permainan ini sedikit demi sedikit telah terlupakan dan digantikan dengan permainan Play Station serta beberapa permainan yang berbasis Komputer atau IT, tidak dapat dipungkiri lagi dengan sarana teknologi serta permainan-permainan komputer yang terus-menerus berinovasi merambah desa, sehingga ketertarikan anak-anak atau remaja semakin tinggi dengan permainan-permainan tersebut.

Karena hal tersebut diatas maka seluruh permainan tradisional di Indonesia khususnya di Jawa Timur mulai dilupakan, ironisnya lagi aturan serta peralatan dari kebanyakan permainan tradisional hanya diketahui oleh orang-orang tua, sedangkan anak-anak serta remaja banyak yang tidak mengetahui hal ini. Dengan berpegang dengan Undang-undang Nomor  3 tahun  2005 serta Peraturan Menegpora Nomor : PER. 0015/MENPORA/II/2007, kita semua mempunyai kewajiban yang sama untuk ikut menggali dan mengembangkan olahraga tradisional, tidak hanya di daerah Jawa Timur tetapi seluruh Indonesia.

Selamat Mencoba !!!

Rabu, 15 Agustus 2012

HADANG


Hadang adalah permainan olahraga tradisional yang tidak mempergunakan alat apapun sebagaimana permainan tradisional sebelumnya. Olahraga tradisional hadang dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu sebanyak 8 orang, terdiri dari 5 orang sebagai pemain inti dan 3 orang selebihnya sebagai pemain cadangan.  Ada sedikit perbedaan pada permainan olahraga tradisional ini, selain dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Namun yang membedakan dengan permainan olahraga tradisional lainnya adalah pada permainan ini tidak hanya dilakukan sebagai permainan untuk dilombakan pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus atau peringatan hari jadi Kabupaten atau Kota saja, tetapi juga sering dilakukan sebagai pengisi waktu senggang.

Permainan olahraga tradisional hadang ini dapat dibuat di ruangan terbuka (stadion, lapangan terbuka, halaman rumah, lapangan, atau jalan raya bila memungkinkan) maupun tertutup (gedung olahraga, gedung pertemuan). Sebaiknya arena yang akan dipergunakan memiliki permukaan yang datar atau rata.

Bentuk area hadang merupakan area petak persegi panjang yang mempunyai panjang lapangan 15 meter dan lebar 9 meter. Kemudian area tersebut dibagi 6 petak dengan ukuran masing-masing petak 4,5 meter X 5 meter. Pinggir lapangan sebaiknya dibuat jangan dari tali (plastic atau tamper), namun sebaiknya diberi tanda dengan kapur saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan buruk salah satu peserta yang terkit tali dan akan mencederai. Garis permainan ditandai dengan garis selebar 5 cm, dan upayakan pembuatan garis tersebut tidak mudah luntur atau hilang.

Untuk membedakan regu satu dengan regu lainnya, setiap regu diwajibkan memakai kostum seragam bernomor dada dan punggung ukuran 15 cm X 20 cm, dari angka 1 sampai dengan 8. Kapten regu diberi tanda khusus pada lengan kanan atas berbentuk pita berwarna melingkar.

Lamanya permainan olahraga tradisional hadang ini adalah 2 X 15 menit dan diberi waktu untuk istirahat selama 15 menit. Pelatih atau tim manajer diperkenankan mengajukan time out. Time out diberikan kepada masing-masing regu sebanyak satu kali, masing-masing satu menit selama permainan. Ketia pelaksanaan time out, jam dimatikan dan dicatat posisi masing-masing pemain. Setalah time out selesai, posisi masing-masing pemain seperti sebelum diberlakukan time out.

Pemanang dalam permainan hadang ini ditentukan dari besarnya nilai yang diperoleh salah satu regu, setelah permainan berakhir 2 X 15 menit. Penetapan nilai diambil dari setiap pemain yang berhasil melewati garis depan sampai dengan garis belakang diberi nilai satu, dan pemain yang juga berhasil melewati garis belakang sampai dengan garis depan diberi nilai satu. Apabila, terjadi nilai sama setelah waktu yang ditetapkan 2 X 15 menit, maka diberikan waktu perpanjangan selama 10 menit (2 X 5 menit) tanpa diberi waktu istirahat. Tetapi bila masih sama, maka pemenang ditentukan berdasarkan hasil undian.

Selamat Berolahraga......

Tarik Tambang


     Tarik tambang merupakan permainan olahraga tradisional yang mempergunakan seutas tambang dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kekuatan untuk  saling menarik antara regu yang satu dengan regu yang lain. Olahraga tradisional tarik tambang dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu disesuaikan dengan keadaan, satu penyelenggara dengan penyelenggara yang lain tidak pasti harus sama.  Sebagaimana permainan tradisional lainnya, permainan tarik tambang ini sangat dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan sering dilombakan selain pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus, permainan ini juga sering dilakukan pada peringatan hari jadi Kabupaten atau Kota bahkan pada perayaan hari besar agama.

     Permainan olahraga tradisional tarik tambang ini walau dapat dilakukan di arena terbuka maupun tertutup. Namun, permainan ini cenderung mempergunakan arena  terbuka, selain bebas juga dapat disaksikan banyak penonton sebagai pemberi semangat peserta. Sebaiknya arena yang akan dipergunakan memiliki permukaan yang datar/rata. Arena yang dapat dipergunakan diantaranya, stadion, lapangan, tepi pantai, dll.

         Area tarik tambang merupakan area petak persegi panjang yang mempunyai panjang lapangan kurang lebih antara 20 s.d 40 meter dan lebar lapangan kurang lebih antara 5 s.d 8 meter. Pinggir lapangan sebaiknya dibuat jangan dari tali (plastic atau tamper), namun sebaiknya diberi tanda dengan kapur saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan buruk salah satu peserta yang terkait tali dan akan mencederai. Pada tengah-tengah area diberi garis kapur yang cukup jelas sebagai pembatas area lawan. Dari garis pembatas tengah, dibuat juga garis pembatas peserta terdepan sepanjang 2,5. Garis ini merupakan pembatas peserta terdepan sebelum permainan ini dimulai.

Area Tarik Tambang

         Peserta dinyatakan sebagai pemenang, apabila salah satu regu dapat mengalahkan regu lain dengan score 2 – 0 atau 2 – 1 (kalau terjadi seri). Kebiasaan yang berkembang di masyarakat, permainan ini dilakukan dengan sistem gugur dengan hasil terbaik dari tiga kali permainan (the best of three game), tetapi penyelenggara dapat menentukan sistem perlombaan yang lain disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Olahraga Tradisional Egrang


Egrang adalah permainan tradisional yang mempergunakan bambu dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kecepatan dengan menempuh jarak yang telah ditentukan. Permainan ini sudah cukup dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan sering dilombakan pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus.

Permainan egrang dilakukan oleh anak-anak, remaja, dewasa dengan tujuan pengisi waktu luang, bermain dan meningkatkan kemampaun motorik. Manfaat yang akan dirasakan oleh pelaku permainan ini adalah kegembiraan, kualitas kebugaran, dan bersosialisasi. Alat terbuat dari sepasang bambu bulat, masing-masing bambu memiliki ukuran  panjang + 2,75 m dan memiliki diameter antar 6 s.d 9 Cm. Pada ukuran 50 Cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata.

Permainan tradisional egrang ini sering dilakukan di lapangan berumput, di stadion, atau tanah dataran. Yang terpenting kondisi lapangan yang dipergunakan untuk perlombaan permainan ini datar dan luas. Jumlah lintasan dibuat sesuai dengan kondisi ukuran area yang dipergunakan. Untuk lebih meriahnya perminan ini, sebaiknya lintasan yang dipergunakan minimal sebanyak tiga lintasan. Apabila dapat dibuat lebih dari itu, akan lebih baik dan meriah. Masing-masing lintasan dengan ukuran lebar 1 s.d 1,5 meter dan panjang 50 meter.

Pemenang dalam permainan olahraga tradisional egrang ini ditentukan berdasarkan kecepatan waktu, artinya bahwa peserta yang mampu mencapai garis finish/garis akhirlah yang ditetapkan menjadi pemenang. Perlombaan di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan nasional untuk jumlah peserta dalam satu regu adalah sebanyak 3 (tiga) orang. Permainannya dilakukan secara bergantian (estafet) pada 50 meter pertama, sehingga jumlah keseluruhan pada permainan ini adalah mampu melakukan jarak 150  (seratus lima puluh) meter.

Persyaratan permainan di tingkat daerah dan nasional :
1.    Peserta Egrang terdiri dari 3 pemain;
2.    Peserta harus menggunakan seragam team dan masing – masing regu diwajibkan menggunakan nomor punggung 1 s/d 3;
3. Peserta diperkenankan membawa peralatan sendiri dengan ketentuan menggunagan bahan dari bamboo dengan ukuran ketinggian maksimal 2,75 m. Jarak penompang kaki dari bamboo terbawah adalah 50 cm, sedangkan diameter bamboo antara 6 s/d 9 (tidak boleh kurang);
4.    Start dibelakang garis dan posisi peserta masih berada di bawah (belum naik);
5.    Berjalan sesuai dengan lintasan masing- masing;
6.  Masing-masing orang dalam satu regu wajib menempuh jarak 50 m, sehingga jumlah total jarak tempuh untuk masing-masing regu adalah sepanjang 150 m.
7.  Sebelum pergantian pemain, pemain dan egrangnya harus seluruhnya melewati garis batas akhir;
8.   Pemain berikutnya menunggu di luar garis, tidak diperkenankan masuk dalam arena lomba;
9.   Dinyatakan sebagai Pemenang apabila pemain ketiga lebih dahulu melewati garis  finish;
10. Dinyatakan diskualifikasi jika:
                   -   Egrang menyentuh garis lintasan;
                   -   jika kaki peserta menyentuh tanah (peserta jatuh);
                   -   Egrang tidak memenuhi ukuran sebagaimana ketentuan persyaratan;
                   -   Pergantian pemian dilakukan sebelum melewati garis batas.

SELAMAT BERLOMBA.......




Terompah Panjang


Terompah panjang adalah permainan olahraga tradisional yang mempergunakan kayu panjang dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kecepatan dengan menempuh jarak yang telah ditentukan. Sebagaimana permainan tradisional egrang, permainan terompah panjang ini juga sudah cukup dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan sering dilombakan pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus.

Permainan ini dilakukan oleh tiga atau lima orang dalam sepasang terompah. Panjang terompah disesuaikan dengan jumlah pelaku yang akan mempergunakannya. Labar kayu 10 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Pengait kedua kaki pelaku dibuat dari karet ban, dengan labar 7 cm. Sedangkan panjang karet disesuaikan dengan lingkar kaki. Pengait kaki ini dipaku dengan kuat di kedua sisi kayu. Jarak antara karet pengait dengan ujung depan dan ujung belakang kayu sepanjang 20 cm, sedangkan jarak antar karet pengait yang satu dengan lainnya 40 cm. Sehingga, apabila dalam satu kayu mempergunakan tiga karet pengait kaki, maka panjang keseluruhan kayu tersebut adalah 141 cm. Lain halnya, apabila dalam satu kayu mempergunakan lima karet pengait kaki, panjang keseluruhan kayu tersebut adalah 235 cm.

Sebagaimana permainan tradisional egrang, permainan terompah panjang ini juga dilakukan di lapangan berumput, di stadion, atau tanah dataran. Yang terpenting kondisi lapangan yang dipergunakan untuk perlombaan permainan ini datar dan luas. Jumlah lintasan dibuat sesuai dengan kondisi ukuran area yang dipergunakan. Untuk lebih meriahnya perminan ini, sebaiknya lintasan yang dipergunakan minimal sebanyak tiga lintasan. Apabila dapat dibuat lebih dari itu, akan lebih baik dan meriah. Masing-masing lintasan dengan ukuran lebar 1 s.d 1,5 meter dan panjang 50 meter. 


Pemenang dalam permainan tradisional terompah panjang ini juga ditentukan berdasarkan kecepatan waktu. Waktu yang diambil adalah kaki terakhir melewati garis finish.

Persyaratan permainan olahraga tradisional terompah panjang :
1.     Satu regu terdiri dari 5 orang pemain putra dan 2 cadangan;
2.    Start dibelakang garis dan peserta berada disamping terompah.
3.    Berjalan sesuai dengan lintasan masing- masing.
4.    Jarak tempuh yaitu 50 m PP, total 100 m.
5.    Sebelum berbalik arah, pemain dan terompah harus seluruhnya melewati garis. Adapun cara berbalik yaitu pemain keluar dari terompah kemudian terompah dibalik dengan cara diangkat. Tidak boleh hanya pemainnya saja yang berbalik arah tanpa memutar terompah.
6.    Setelah berbalik urutan posisi pemain harus sama seperti sebelumnya.
7.    Pada saat mengangkat terompah untuk berbalik, tidak boleh mengganggu pemain lain.
8.    Pada saat finish, terompah bagian belakang harus melewati garis finish.
9.    Dinyatakan diskualifikasi jika:
- terompah menyentuh garis lintasan.
- jika kaki peserta menyentuh tanah.

Selamat Berlomba.......


Senin, 13 Agustus 2012

Olahraga Tradisional


Olahraga tradisional merupakan permainan asli rakyat sebagai aset budaya bangsa yang memiliki unsur olah fisik tradisional. Permainan rakyat yang berkembang cukup lama ini perlu dilestarikan, karena selain sebagai olahraga hiburan, kesenangan, dan kebutuhan interaksi sosial, olahraga ini juga mempunyai potensi untuk meningkatkan kualitas jasmani bagi pelakunya.

Olahraga tradisional semula tercipta dari permainan rakyat sebagai pengisi waktu luang. Karena permainan tersebut sangat menyenangkan dan tidak membutuhkan biaya yang sangat besar, maka permainan tersebut semakin berkembang dan digemari oleh masyarakat sekitar. Permainan ini dilakukan dan digemari mulai dari anak-anak sampai dengan dewasa, sesuai dengan karakter permainan yang dipakai. Beberapa permainan rakyat yang sudah cukup dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia dan menjadi olahraga tradisional adalah seperti egrang, terompah panjang, patok  lele, gobak sodor (hadang), sumpitan, gebuk bantal, gasing, lari balok, tarik tambang, benteng, dagongan, panjat pohon pinang, sepak raga, lomba perahu, lompat batu nias, karapan sapi, dan lain-lain.

Olahraga tradisional merupakan salah satu peninggalan budaya nenek moyang yang memiliki kemurnian dan corak tradisi setempat. Indonesia dikenal memiliki kekayaan budaya tradisional yang sangat beraneka ragam. Namun seiring dengan semakin lajunya perkembangan teknologi di era globalisasi ini, kekayaan budaya tradisional semakin lama semakin tenggelam. Semuanya mulai tenggelam seiring dengan pengaruh budaya asing, maraknya permainan playstation, game watch, computer game, dsb.

Tenggelamnya budaya permainan tradisional tersebut tentunya merupakan suatu keprihatinan bagi kita semua. Jika generasi saat ini tidak berusaha melestarikan maka lambat laun budaya tradisional akan semakin tenggelam dan suatu saat akan punah, sehingga identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkebudayaan tinggi akan hilang.

Penyebab tenggelamnya budaya tradisional tersebut tentunya terdiri dari berbagai macam, seperti :
1) Kurangnya sosialisasi olahraga tradisional kepada masyarakat;
2) Tidak adanya minat masyarakat untuk menggali kekayaan tradisional;
3) Tidak ada minat melombakan secara berjenjang, berkelnajutan, dan berkesinambungan.

Sejak digulirkannya Undang Undang No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, perhatian pemerintah untuk memunculkan dan melestarikan serta mengembangkan kembali budaya permainan tradisional sudah semakin terlihat. Hal ini, terlihat pada saat digelarnya acara pemubukaan sebuah event olahraga nasional, selalu ditampilkan di antara atraksi lainnya adalah salah satu jenis olahraga tradiisonal ditampilkan. Bahkan, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, sudah menggulirkan dua (2) program kegiatan unggulan tingkat nasional, yaitu Festival Olahraga Tradisional dan Invitasi Olahraga Nasional. Kedua even skala nasional ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali secara bergantian. Untuk Festival jatuh pada tahun genap dan Invitasi dilaksanakan pada tahun ganjil.

Dua event olahraga tradisional skala nasional ini memiiki karakteristik permaina  budaya yang berbeda. Festival Olahraga Tradisional merupakan kegiatan yang bersifat pertunjukan dan memilki unsur cerita rakyat asli daerah setempat, yang di dalamnya penyajian materi pertunjukannya harus memiliki komponen penilaian dari unsur pendidikan, unsur olahraga, unsur relegius, dan unsur budaya asli daerah setempat. Dari keempat unsur komponen penilaian tersebut, yang memiliki prosentasi tertinggi adalah dari unsur olahraga yaitu 60 %.  

Berbeda dengan Invitasi Olahraga Tradisional, merupakan bentuk permainan yang dilombakan, artinya peserta yang satu dengan peserta lainnya saling berlomba untuk menjadi pemenang. Beberapa permainan olahraga tradisional ini yang telah dibakukan di tingkat nasional adalah seperti, permainan egrang, terompah panjang, hadang (gobak sodor), dagongan, tarik tambang, gebuk bantal, dan masih banyak lainnya.

Sampai dengan tahun 2012 ini, pelaksanaan Festival Olahraga Nasional Tingkat Nasional sudah akan yang ke tujuh kalinya, sedangkan untuk kegiatan Invitasi Olahraga Tradisional Tingkat Nasional sudah dilaksanakanyang ke tiga kalinya, yaitu terkahir dilaksanakan pada tahun 2011 di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Pada tahun 2012 ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga Tingkat Nasional akan melaksanakan Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional di Ternate. Kementerian   Pemuda dan Olahraga RI sudah merencanakan kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 15 Oktober2012 di Ternate. Sebagaimana pelaksanaan tahuan 2010 yang lalu, peserta yang mengikuti event ini adalah perwakilan terbaik dari masing-masing permainan olahraga tradisional provinsi. Tiga puluh dua provinsi turut serta dalam festival ini, dan beragam aktivitas olahraga tradisional budaya asli daerah yang sempat tenggelam akhirnya bermunculan kembali. Dari kegiatan ini semakin terlihat bahwa kekayaan budaya bangsa Indonesia sangat luar biasa dan beragam.