Senin, 21 Maret 2016

KOTI Pusat Menggelar Focus Group Discussion (FGD) di CERACAS Jakarta Timur

Penulis :
Choirul Umam Sekretaris Jenderal KOTI
(kami cuplik dari kiriman WA Bp. Chairul Umam)

Jakarta Timur, 19 Maret 2016
Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) mengadakan Focus Group Discussion tentang Pola Pengembangan Olahraga Tradisional di Indonesia. Diharapkan dari FGD ini dapat menghasilkan rumusan dan langkah strategis dalam rangka mengangkat harkat dan martabat olahraga tradisional. Dimulai acara ini, pemberian sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum KOTI, Bapak Suherman, S,Sos. Disampaikan bahwa hadirnya peserta FGD menjadi wujud rasa cinta kita terhadap Olahraga Tradisional. Dilengkapi dengan penyampaian prolog dari Sekretaris Jenderal Choirul Umam, yang menyatakan bahwa "Olahraga Tradisional adalah merupakan kearifan lokal disetiap daerah yang harus dijaga dan dilestarikan", atas dasar cinta dan kesadaran pengurus KOTI Pusat sepakat untuk mengangkat isu Nasional yang dimana akan menjadi fokus dalam satu sampai dua tahun kedepan.
Ketua Umum KOTI Suherman, S,Sos menggunakan
baju abu abu Seragam KOTI, disebelah kanan Kepala Bidang Olahraga
Tradisional Kemenpora RI, Bp. Arman menggunakan
kemeja Abu abu gelap (tengah)
Focus Group Discussion yang dihadiri oleh Ketua Umum KOTI Pusat, Suherman, S,Sos, Kepala Bidang Olahraga Tradisional Kemenpora RI, Bapak Arman, perwakilan KOTI Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta berlangsung sangat seru dan menarik. Menariknya diskusi kali ini dikarernakan masing-masing berbagi kegiatan yang telah dilakukan oleh setiap provinsi. Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Biasworo Adisuyanto Aka selaku KOTI Jawa Timur menyampaikan bahwa Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya punya banyak pengalaman yang bisa di shere kan dalam FGD tersebut. Kompetisi dan beberapa kegiata pelatihan yang sering dilaksanakan Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya menjadikan konsep pembangunan olahraga tradisional di Kota Surabaya berjalan sangat baik. Bahkan kegiatan lomba-lomba yang dilaksanakan di Kota Surabaya, diawali pelaksanaannya dari tingkat Kecamatan-kecamatan dan berakhir pada pelaksanaan tingkat Kota Grand Finalnya. Konsep yang dibangun oleh Dispora Kota Surabaya ini melahirkan kerjasama sponsorship yang sangat luar biasa. Secara otomatis, kegiatan yang dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat kota bahkan Jawa Timur ini melahirkan semangat bagi seluruh masyarakat untuk ikut melestarikan olahraga tradisional ini secara baik. Olerh sebab itu, apabila KOTI Pusat berkenan melahirkan bentuk kegiatan sebagai ikon nasional dalam bentuk "Pekan Olahraga Tradisional Tingkat Nasional (POTNAS) dapat dilaksanakan secara baik, maka seluruh komponen bangsa akan terfokus pada pengembangan olahraga tradisional ini secara serempak.

Berbeda dengan Jawa Timur, Provinsi Jawa Barat pun punya sisi pengalaman yang sangat luar biasa dalam pembinaan, pengembangan, dan pelestarian olahraga teradisional di Jawa Barat, yaitu telah berhasil melakukan pengembangan akat sumpitan menjadi lebih bernilai ekonomis dan mudah digunakan. "di Jawa Barat khususnya Kota Bandung untuk olahtraga tradisionasl di gunakan sebagai sarana meningkatkan partisipasi masyarakat" begitu kata Pak Asep dari perwakilan KOTI Jawa Barat.
Kekuatan luar biasa akan dihimpun oleh 4 (empat) provinsi yang hadir pada pelaksanaan FGD pagi tadi. Empat cabang olahraga tradisional yang selama ini selalu diperlombakan akan dikaji dan dikembangkan agar kedepannya bisa menjadi salah satu cabang olahraga prestasi, yaitu untuk jenis HADANG. Masing-masing daerah akan berusaha untuk membuat perlombaan yang berjenjang dari tingkat Kecamatan hingga provinsi, yang selanjutnya pada tahun 2017 nanti InsyaAllah tepatnya dibulan Mei 2017, Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) akan membuat sebuah pesta olahraga tradisonal berskala nasional sebagai bentuk hasil kesepekatan bersama dalam FGD KOTI 2016 di GOR CERAS Jakarta Timur pagi tadi dan event tersebut diberi nama "Pekan Olahraga Tradisional Nasional, atau disingkat dengan nama "POTNAS".




Dispora Kota Surabaya Menggelar Invitasi Olahraga Tradisional Tahun 2016

Penulis :
Biasworo Adisuyanto Aka

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 s.d. 6 Maret 2016, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya telah sukses menggelar "Invitasi Olahraga Tradisional se Surabaya 2016". Tidak hanya untuk kalangan pelajar, tetapi masyarakat umumpun diperkenankan mengikuti kegiatan ini. Adapun jenis permainan olahraga tradisional yang diperlombakan pada saat itu adalah Bentengan kategori Umum putra dan putri, HADANG Sekolah Dasar dan SMA putra dan putri, Terompah Panjang, Egrang, Dagongan, Tarik Tambang, dan Sumpitan. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Bapak Asisten IV Pemerintah Kota Surabaya pada tanggal 3 Maret 2016 tepat pukul 07.00 Wib di Gelora 10 Nopember Tambaksari - Surabaya.

DISPORA Kota Surabaya Akan Menggelar Benteng Bentengan

Penulis :
Biasworo Adisuyanto Aka

Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya dalam waktu dekat akan menyelenggarakan "Lomba Olahraga Tradisional Benteng Bentengan se Surabaya", yang rencanannya akan digelar pada pertengahan bulan Mei 2016 mendatang di Lapangan Sepak Bola Stadion Gelora Sepuluh Nopember, Jl. Tambaksari - Surabaya. "Target peserta pada kegiatan benteng bentengan ini adalah sebanyak 1000 atlet pelajar Sekolah Dasar, dan target 500 siswa pelajar SMA se Surabaya" ungkap Bunda Indah sapaan akrab Ibu Indah Kepala Seksi Olahraga Tradisional Dispora Kota Surabaya.  "Permainan bentengan ini sudah hampir punah di Kota Surabaya" tambah beliau pada saat kami temui diruang kerjanya beberapa hari yang lalu. Beliau berkeinginan mengembalikan permainan ini untuk digemari kembali tidak hanya untuk kalangan anak-anak, tetapi juga berharap disukai dikalangan remaja pelajar SMA. "Pada saat saya kecil dulu, permainan bentengan ini sering dimainkan pada waktu senggang, yaitu sore hari selepas pulang sekolah" tambahnya sambil mengenang masa lalunya.
Sebenarnya, upaya permainan "Bentengan" ini sudah beliau sosialisasikan sejak tahun 2015, awalnya diperkenalkan lebih dahulu kepada anak-anak SMP di Surabaya. Melalui pelatihan wasit/juri olahraga tradisional bentengan kepada guru-guru Penjaskes SMP. Permainan ini disambut secara baik. Bahkan ketika diadakan lomba benteng-bentengan pada tahun 2015 yang lalu, juga sangat sukses dan peserta mencapai 1500 siswa-siswi pelajar SMP se Surabaya.
Mengenai sejarah perkembagan permainan “BENTENG” ini tidak diketahui dengan pasti, yang jelas sejak masa anak-anak dan dimasa generasi kakek dan nenek permain ini sudah dikenal, digemari dan dimainkan oleh rakyat. Menurut  data-data yang diperoleh bahwa permainan yang hampir sama dengan permainan ini ada juga di daerah lainnya seperti di :
1.     Provinsi Lampung nama permainannya, main benteng, Gamit Tikam;
2.     Provinsi Jambi namanya merebut Benteng;
3.     Provinsi Kalimantan Tengah namanya Tawanan;
4.     Provinsi NTT namanya Hakdiuk Lise;
5.     Provinsi Bengkulu namanya sekejar;
6.     Daerah Khusus Ibukota Jakarta namanya benteng.
7.     Provinsi Jawa Timur, namanya : Benteng, Chu, dan Cu - Cu

Mendengar istilah ‘’BENTENG’’ timbul dalam pikiran kita suatu bangunan tembok yang kokoh, kuat, dikelilingi parit-parit didalamnya terdapat sejumlah pasukan dengan segala peralatan perang. Pada setiap sudut benteng terlihat prajurit yang sedang bertugas jaga sedang berjalan hilir mudik dengan senjata dipundaknya berpakaian unik yang setiap saatnya melemparkan pandangannya dengan penuh curiga. Permainan ini disebut ‘’BENTENG’’ karena masing-masing regu pada hakekatnya berusaha saling menyerang dan mempertahankan bentengnya; juga berusaha menghindarkan diri dari tangkapan/sentuhan musuhnya agar tidak tertawan. Pada umumnya semua bentuk permainan benteng di berbagai daerah itu mempunyai persamaan.

Semoga pada pelaksanaan "Lomba Olahraga Tradisional Benteng Bentengan Kategori SD dan SMA se Surabaya ini akan berhasil dengan baik dan minat pesertanya pun mudah-mudah melampaui target yang diinginkan Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya.

Amin YRA... SUKSES Selalu

Selasa, 13 Oktober 2015

KEMENPORA RI Menggelar Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional IX tahun 2014

Penulis          : 
Biasworo Adisuyanto Aka
Narasumber : 
Seksi Pelestarian & Pengembangan Olahraga Tradisional Dispora Provinsi Jawa Timur

Deputi Bidang Pemberdayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia menggelar kembali Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional IX tahun 2014 di Area Vellodroom Lapangan Rawamangun Jakarta. Sebagaimana tahun 2012 yang lalu di Ternate, kegiatan serupa diikuti oleh 33 provinsi di seluruh Indonesia. Masing-masing provinsi menampilkan beragam budaya olahraga tradisional yang telah mereka gali di daerahnya. Melalui kegiatan festival ini, tergali beragam olahraga tradisional yang sudah terpendam cukup lama. Kekayaan budaya Indonesia terlihat pada gebyar penyelengaraan skala nasional seperti ini.

Olahraga tradisional merupakan jenis olahraga yang sudah ada, tumbuh dan berkembang di masyarakat sejak jaman dahulu, diperkirakan sudah ada sejak jaman kerajaan dan mengalami alkulturasi pada jaman penjajahan. Olahraga tradisional merupakan olahraga yang sederhana, mudah dimengerti/dipelajari, biayanya relative murah dibandingkan dengan olahraga modern karena sedikit menggunakan perlengkapan dan peralatan yang dapat dibuat sendiri serta dapat dimainkan di arena terbuka dan tertutup.

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia telah melaksanakan kegiatan  Festival Olahraga Tradisional ini setiap tahun sejak tahun 2002 hingga tahun 2006 di Bandar Lampung dalam rangka Hari Olahraga Nasional (Haornas XXII). Pada tahun 2007 diputuskan untuk setiap 2 (dua) tahun sekali yaitu setiap tahun genap. Hal ini untuk memberi kesempatan kepada daerah untuk menggali olahraga tradisional yang benar-benar asli dan berkualitas sesuai ketentuan yang berlaku dalam buku pedoman Festival Olahraga Tradisional yang telah disampaikan kepada seluruh provinsi sejak festival pertama di Jakarta bahwa olahraga tradisional yang baru dan asli dari daerah yang diwakili.

Dikalangan anak-anak dan remaja, bahkan orang dewasa pada saat ini olahraga tradisional sudah sangat awam bagi mereka, dan kurang diminati, padahal bila ditelusuri secara lebih mendalam olahraga tradisional ini memiliki nilai-nilai luhur yang perlu diperkenalkan dan diwariskan pada generasi muda untuk meningkatkan jiwa cinta budaya bangsa juga dapat meningkatkan semangat persahabatan, kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan menciptakan suasana ceria.

Deputi Bidang Pemberdayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga RI pada pelaksanaan Festival Olahraga Tradisional tahun ini memberikan tema kegiatan “Melalui Festival Olahraga Tradisional Kita Tingkatkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa” dan dengan moto kegiatan “Satukan Perbedaan dan Tanamkan Persaudaraan”. Adapun jadwal kegiatannya sudah tertera secara jelas pada buku pedoman, bahwa acara ini akan diawali dengan kegiatan Technical Meeting pada tanggal 12 Oktober 2012 pukul : 19.00 – 21.00.

Sebagaimana pelaksanaan tahun 2012 di Kota Ambon, panitia telah merencanakan agenda kegiatan Pawai Keliling Kota Ternate oleh masing-masing kontingen perwakilan provinsi sebelum pelaksanaan acara pembukaan. Acara pawai keliling ini direncanakan pada tanggal 13 Oktober 2012 pada pukul 08.00 – 09.00. Setelah itu, acara ceremonial pembukaan pada hari sabtu tanggal 13 Oktober 2012 pukul 14.30 di Lapangan Keraton Ternate (depan Kesultanan Ternate), Provinsi Maluku Utara. Kemudian selanjutnya akan digelar secara marathon pelaksanaan Festival Olahraga Tradisional dari penampilan 33 provinsi sampai dengan keesokan harinya, minggu tanggal 14 Oktober 2012 di tempat yang sama.

Olahraga tradisional yang difestivalkan adalah olahraga tradisional yang belum dibakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dan belum pernah ditampilkan pada Festival Olahraga Tradisional sebelumnya dan merupakan upaya penggalian olahraga tradisional melalui pertunjukan alternative dan menarik kepada masyarakat. Penilaian pada kegiatan ini, akan tetap mengacu pada pedoman penyelenggaraan pada tahun 2002, yaitu meinitik beratkan pada permainan rakyat yang lebih mengutamakan penggunaan fisik sehingga dapat dikategorikan dalam jenis olahraga tradisional.

Unsur yang dinilai akan dititk beratkan kepada (1) mengandung unsure pendidikan (2) mengandung substansi olahraga tradisional (3) memiliki nilai gerak (4) memenuhi ketetntuan khusus. Adapun juri yang akan dilibatkan sebagai tim juri adalah berjumlah 10 orang berasal dari pusat yang telah memiliki kemampuan juri lewat pembekalan yang cukup. Dari hasil penelilaian, panitia akan memberikan penghargaan kepada para peserta, khususnya diberikan kepada (1) sepuluh peserta terpilih (2) pemberian plakat kepada seluruh peserta (3) dan pemberian piagam untuk seluruh peserta Festival.

Selamat dan semoga sukses…. Jaya Indonesia !!!!

KADISPORA Provinsi Jawa Timur Menggelar Festival Olahraga Tradisional Tingkat Jawa Timur Tahun 2013

Penulis          : 
Biasworo Adisuyanto Aka

Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provensi Jawa Timur menggelar kembali yang Festival Olahraga Tradisional Tingkat Provensi Jawa Timur tahun 2013 di Surabaya. Kegiatan ini merupakan agenda rutin Dispora Provensi Jawa Timur setiap dua tahun sekali, yaitu pada tahun ganjil. Kali ini merupakan kegiatan yang ke tiga  kalinya, yang sebelumnya pernah dilaksanakan di Kabupaten Sidoarjo tahun 2005 dan sempat fakum cukup lama hingga tahun 2011 baru terlaksana kembali di Kabupaten Probolinggo.

Olahraga tradisional merupakan jenis olahraga yang sudah ada, tumbuh dan berkembang di masyarakat sejak jaman dahulu, diperkirakan sudah ada sejak jaman kerajaan dan mengalami alkulturasi pada jaman penjajahan. Olahraga tradisional merupakan olahraga yang sederhana, mudah dimengerti/dipelajari, biayanya relative murah dibandingkan dengan olahraga modern karena sedikit menggunakan perlengkapan dan peralatan yang dapat dibuat sendiri serta dapat dimainkan di arena terbuka dan tertutup.

Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, pelaksanaan kali ini tidak hanya unsur perwakilan Kabupaten/Kota saja yang dilibatkan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur untuk turut berpartsisipasi menggali dan melestarikan olahraga tradisional. Respon perguruan tinggi sudah cukup luar biasa, ada enam peserta dari perguruan tinggi yang menjadi peserta diantaranya, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Malang, Ubaya Training Centre, dan Universitas Surabaya.

“Melibatkan perguruan tinggi ini merupakan keinginan Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur, Dr. Sugeng Riyono” kata Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dispora Jawa Timur, Drs. Abd. Haris Ramadhan, MM disela-sela persiapan acara pembukaan di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. “Beliau sangat yakin akan potensi yang terkandung di masing-masing perguruan tinggi, bila dilibatkan  menjadi peserta di Invitasi Olahraga Tradisional se Jawa Timur tahun 2013 ini, akan tergali kembali budaya bangsa yang sudah terpendam dari mereka.” Tambah Haris sapaan lekat Abd. Haris Ramadhan.

Sebagaimana tahun 2011 yang lalu di Kabupaten Probolinggo, kegiatan ser upa hanya diikuti 9 Kabupaten/Kota dari 38 Kabupaten/Kota dan 6 Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Timur. Masing-masing Kabupaten/Kota menampilkan beragam budaya olahraga tradisional yang telah mereka gali di daerahnya. Melalui kegiatan festival ini, tergali beragam olahraga tradisional yang sudah terpendam cukup lama. Kekayaan budaya Jawa Timur terlihat pada gebyar penyelengaraan skala daerah seperti ini.

Beberapa daerah Kabupaten/Kota dan Perguruan Tinggi yang menjadi peserta Festival Olahraga Tradisional se Jawa Timur tahun 2013 ini diantaranya adalah :
1.     Universitas Negeri Malang, dengan tema “Gulat Okol”;
2.     Kabupaten Jember, dengan tema “Legenda Watu Ulo”;
3.     Universitas Surabaya, dengan tema “Benteng Bentengan”
4.     Kabupaten Sidoarjo, dengan tema “Ritual Ujung”
5.     Kota Surabaya, dengan tema “Suro Lan Boyo”;
6.     Universitas Muhammadiyah Malang, dengan tema “Songguy Asuwek”;
7.     Kabupaten Sampang, dengan tema “Penteng”;
8.     Universitas Brawijaya Malang, dengan tema “Wetengan”;
9.     Kabupaten Bojonegoro, dengan tema “Kalongking”
10.  Kota Batu, dengan tema “Gronjong Delling”;
11.  Kabupaten Mojokerto, dengan tema “Bentengan”;
12.  Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan tema “Sodoran”;
13.  Kabupaten Jombang, dengan tema “Silat Gantangan (Kebo Kicak)”;
14.  Kota Kediri, dengan tema “Pencak Dor”;
15.  Ubaya Training Centre, dengan tema “Silat Harimau dan Macam”.

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya sebagai tuan rumah juga sangat tidak mengecewakan. Segala upaya dukungan kebutuhan panitia penyelenggara dari  khususnya terkait dengan fasilitas sarana dan prasarana festival disiapkan secara maksimal. Mulai dari pelaksanaan technical meeting sampai dengan pelaksanaan festival keesokan harinya sangat tidak mengecewakan. Ruang pertemuan, ruang ganti pakaian dan beberapa ruang lain yang diperuntukan sebagai pertemuan dewan juri juga disiapkan secara baik oleh pihak Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Lahan parkir yang mempunyai luas area kurang lebih 30 meter x 30 meter disulap secara baik menjadi arena festival olahraga tradisional tingkat daerah Jawa Timur. Lahan parkir yang beralaskan paving disetting materas pazzle karet tebal 2 cm seluas 20 meter x 20 meter. Materas ini diperuntukan sebagai area festival sebagaimana pemenuhan persyaratan nasional. Sedangkan sekeliling di luar arena materas dipasang tenda undangan dan tenda peserta.

Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur juga tidak tanggung-tanggung dengan mengundang pakar olahraga tradisional Dr. Andun Sundiandoko, M.Kes dari Universitas Negeri Surabaya sebagai ketua dewan juri pada pelaksanaan Festival Olahraga Tradisional se Jawa Timur tahun 2013 ini. Selebihnya, dewan juri yang bertugas mendampingi Dr. Andun Sundiandoko, M.Kes juga punya pengalaman dan sertifikasi dibidangnya secara baik. Diantaranya adalah Dr. Harwanto, ST, M.Pd. (Universitas PGRI Adibuana Surabaya), I Wayan Sudharma, S.Pd.(PMKI Jawa Timur), Ir. BIasworo Adisuyanto Aka, MM (Dispora Provinsi Jawa Timur), Sudarsono (Seniman).

Hasil akhir penilaian dewan juri olahraga tradisional dari 15 regu peserta, diambil 10 rangking terbaik adalah sebagai berikut :

Sepuluh peringkat terbaik diberikan Piala tetap da uang pembinaan dengan rincian sebagai berikut :
Rangking    I                    Tropy dan uang pembinaan Rp. 2.000.000,-
Rangking    II                   Tropy dan uang pembinaan Rp. 1.750.000,-
Rangking    III                  Tropy dan uang pembinaan Rp. 1.500.000,-
Rangking    IV s/d VI       Tropy dan uang pembinaan Rp.    750.000,-
Rangking      VII s/d X         Tropy

Selasa, 11 Desember 2012

Ketua Umum FORMI Jatim Hadiri Lomba Perahu Galon Tradisional Se Jatim 2012


Penulis          : 
Biasworo Adisuyanto Aka

Lomba Perahu Galon Tradisional se Jawa Timur tahun 2012 dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dispora Provinsi Jawa Timur pada tanggal 09 Desember 2012 tepat puku 09.00 wib di Sungai Kalimas depan Taman Tugu Surabaya. Acara ini sempat tertunda kurang lebih selama 1 jam dari rencana semula. Sebagaimana jadwal acara, untuk acara pembukaan dimulai pada pukul 08.00 wib. Namun karena Kota Surabaya diguyur hujan deras sejak pukul 04.45 wib dan mulai mereda pada pukul 07.55 wib, maka kedatangan peserta juga mengalami keterlambatan. Hal ini tentunya berdampak mundurnya acara pembukaan dan dimulainya lomba perahu gallon tradisional se Jawa Timur tahun 2012 ini. Keterlambatan kehadiran peserta karena diakibatkan cuaca, maka panitia sangat memberikan toleransi pengunduran waktu pelaksanaan acara pembukaan, yaitu pada pukul 09.00 wib.

“Kami selaku panitia tidak akan memberikan sanksi diskualifikasi kepada peserta yang terlambat karena adanya hujan deras” kata Kartikawulan, sebagai ketua panitia pelaksana.”Toleransi ini tentunya kami berikan kepada peserta yang terlambat dalam batas waktu satu jam setelah hujan reda”, ”jadi toleransi satu jam ini kami berikan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta untuk dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik”, “selebihnya, kami tidak akan memberikan toleransi lagi, artinya mereka yang belum mendaftar ulang dan ketika mendapat panggilan sebanyak tiga kali juga tidak hadir, tetap akan diberlakukan sanksi diskualifikasi.” Tambah Wulan sapaan sehari di tempat Kerjanya Dispora Provinsi Jawa Timur disela-sela kesibukannya memantau jalannya proses regrestasi peserta. Penundaan waktu merupakan hal yang biasa untuk jenis cabang olahraga perairan alam terbuka seperti pada kegiatan kali ini.

Walaupun sempat tertunda hampir satu jam, pelaksanaan Lomba Perahu Galon Tradisional Se Jawa Timur 2012, mulai dari acara pembukaan sampai dengan pelaksanaan lomba berjalan lancar dan tidak mengalami hambatan yang berarti. Acara Pembukaan dimulai pada pukul 09.00 wib, hadir sebagai undangan Pengurus Harian Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Jawa Timur, yaitu Ketua Umum, Drs. Suparman, M.Si., Ketua Harian, Ir. Hengky Widiyanto, Ketua BIdang Organisasi, Drs. Abd. Haris Ramadhan, MM, Sekretaris Umum, Ir. BIasworo Adisuyanto Aka. Undangan lainya yang hadir pada pelaksanaan Lomba Perahu Galon Trdisional Se Jawa Timur tahun 2012 adalah Ibu Kepala Seksi Olahraga Khsusus Dispora Kota Surabaya, Dra. Chuzaima mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya.

“Kami salut dan sangat mendukung pelaksanaan Lomba Perahu Galon Tradisional 2012 yang digagas oleh Dispora Provinsi Jawa Timur, ini merupakan sebuah langkah yang sangat luar biasa dalam rangka memperkenalkan bentuk lain dari permainan olahraga tradisional yang belum dikenal masyarakat luas” kata Suparman, Ketua Umum FORMI Jawa Timur saat menunggu sebelum acara pembukaan dimulai. “Bentuk permainan tradisional yang diperkenalkan ini dapat menjadikan pilihan alternatif beberapa aktivitas olahraga rekreasi lainnya yang sudah berkembang di masyatakat”,”Saya yakin bahwa permainan olahraga tradisional ini menjadi pilihan yang sangat menarik dan akan menjadi kegemaran masyarakat untuk berkativitas di olahraga, hal ini akan berdampak kepada peningkatan partispasi masyarakat terhadap kegiatan olahraga” tambah Suparman.

Kahadiran Ketua Umum FORMI Jawa Timur ini disambut baik Kepala Dinas Kepemudan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur yang dalam hal ini diwakili Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi, Drs. Kasdi. “FORMI sebagai satu-satunya wadah berhimpun komunitas olahraga rekreasi, tentunya akan menjadi mitra kerja Dispora Provinsi Jawa Timur dalam upaya mengem bangkan dan pembinaan olahraga di Jawa Timur” kata Kasdi saat melihat panitia teknis menyiapkan beberapa perahu gallon yang diturunkan ke permukaan air Kalima Mas Surabaya. Saat acara lomba dimulai, cuaca setempat dimana lokasi lomba berlangsung cukup baik dan hujan telah berhenti. Tepat pukul 09.10 wib setelah Kepala BIdang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dispora Provinsi Jawa Timur usai memberikan kata sambutan, peserta pertama diberangkatkan dengan penekanan tombol sirine.


Proses pelaksanaan lomba berjalan dengan baik dan lancar, semua peserta sangat menikmati perlombaan ini dengan gembira. Peserta yang kalahpun tetap ceria dan sambil tertawa-tawa dengan melambaikan tangan kepada penonton. Pelaksanaan lomba berkahir pada pukul 16.00 wib dan dilanjutkan dengan perhitungan penilaian dewan juri untuk menentukan siapa-siapa yang pantas menjadi pemenang. Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur memberikan tidak hanya memberikan tropy dan piagam saja sebagai hadiah pemenang, tetapi juga memberikan uang pembinaan kepada masing-masing pemenang. Kategori “Speed” dengan peserta 5 orang yang mendapat sebagai juara I memperoleh uang pembinaan sebesar Rp. 2.500.000,-, pemenang kedua senilai Rp. 1.500.000,-, pemenang ketiga senilai Rp. 1.000.000,-, dan sebagai juara harapan senilai Rp. 750.000,-. Sedangkan untuk kategori “FUN” juga mendapat uang pembinaan untuk masing-masing pemenang dengan ketentuan sebagai juara I mendapat Rp. 1.500.000,-, juara II Rp. 1.000.000,-, juara III Rp. 750.000,-, dan harapan I medapat Rp. 500.000,-.


Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dispora Provinsi Jawa Timur dalam sambutan penutupan menyampaikan terima kasih kepada panitia teknis yang merupakan gabungan dari komunitas pencinta alam beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur. Tanpa mereka, Lomba Perahu Galon Tradisional se Jawa Timur ini mungkin tidak akan berjalan sebaik ini. Selain tertata secara baik lomba demi lomba, peralatan yang dipergunakanpun sangat bagus dan tidak terjadi protes dari peserta yang berkepanjangan. Bentuk protes yang terjadi, semuanya dapat diselesaikan dengan baik, tanpa menimbulkan benturan fisik. Perundingan penyelesaian protes hanya berlangsung dalam sidang juri dengan tidak melibatkan Dispora Provinsi Jawa Timur sebagai penanggung jawab kegiatan.

UPP dilaksanakan setelah acara sambutan dan sekaligus penutupan acara, sebagai pemenang pada pelaksanaan Lomba Perahu Galon Tradisional Se Jawa Timur tahun 2012 ini adalah sebagai berikut :
Kategari Speed :
Juara           I      Regu EXPRES, dengan total waktu tercepat 02:19.04;
Juara           II     Regu UKAMADA, dengan total waktu tercepat 02:44.97
Juara           III    Regu KOMPENI, dengan total waktu tercepat 02:54.90
Juara Harapan Regu KUL KAL 1, dengan total waktu tercepat 02:55.33

Kategori FUN
Juara           I      Regu Perompak Mapara, dengan total waktu tercepat 04:28.71;
Juara           II     Regu Ghupatras II, dengan total waktu tercepat 04:44.08
Juara           III    Regu WER, dengan total waktu tercepat 05:51.46
Juara Harapan Regu Ghupatras 2, dengan total waktu tercepat 06:49.32

Surabaya, 11 Desember 2012

Dispora Jatim Menyelenggarakan Lomba Perahu Galon Tradisional Se Jawa Timur 2012


Penulis          : 
Biasworo Adisuyanto Aka


Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur telah menggelar “Lomba Perahu Galon Tradisional Se Jawa Timur 2012” pada tanggal 9 Desember 2012 di Sungai Kalimas, depan Taman Tugu Surabaya. Kegiatan ini diikuti 32 regu kategori “Speed” dan 30 regu kategori “Fun”. Lomba dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dispora Provinsi Jawa Timur mewakili Kepala Dispora Jawa Timur yang sedang mengikuti kegiatan Gubernur Jawa Timur “Fun Bike” di Kabupaten Tuban.

Kegiatan ini merupakan gelar even yang pertama oleh Dispora Jawa Timur, sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan olahraga tradisional di masyarakat Jawa Timur. Harapan terselenggaranya kegiatan ini bukan hanya meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran masyarakat, akan tetapi lebih jauh lagi, yaitu berharap agar olahraga tradisional ini menjadi kebudayaaan yang membentuk cirri khas dan jati diri sebuah bangsa. Melalui kegiatan olahraga tradisional ini dapat berimplikasi pada kebangkitan budaya nasional yang tentunya dapat meningkatkan juga persatuan dan kesatuan bangsa.

Hadir pada acara pembukaan, secara lengkap pengurus Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Jawa Timur, yaitu Ketua Umum Drs. Suparman, M.,Si, Ketua Harian, Ir. Hengky Widiyanto, Ketua Bidang Organisasi, DRs. Abd. Haris Ramadhan, MM, dan Sekretaris Umum FORMI Jawa Timur, Ir. Biasworo Adisuyanto Aka, MM, serta tidak kalah pentingnya juga hadir di-tengah-tengah undangan Ibu Kepala Seksi Olahraga Khusus Bidang Pengembangan Olahraga Rekreasi Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya, Dra. Chuzaima mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya.

Olahraga tradisional merupakan bentuk aktivitas fisik yang dilakukan seseorang atau kelompok  masyarakat atas dasar warisan atau peninggalan leluhur. Peninggalan ini cenderung dalam bentuk permainan yang berkembang dan dipertahankan menjadi asset budaya. Terbentuknya permainan aktivitas fisik ini mempunyai tujuan mengisi waktu luang selepas melakukan aktivitas rutin dan menghilangkan kepenatan fisik. Pada akhirnya bentuk dari berbagai permainan aktivitas fisik ini berkembang dan memiliki aturan yang semakin jelas serta dapat diperlombakan. Penetapan aturan permainan ini juga sudah mengalami banyak perubahan dan penyesuaian. Sehingga, tidak seorang atlet yang punya persiapan matang saja yang dapat mengikuti lomba ini, tetapi masyarakat yang tidak terlatihpun dapat mengikuti lomba ini secara baik.
Berawal dari permainan suka ria, meluapkan suka cita dan kegembiraan di permukaan air. Perahu gallon tercipta dari sebuah permainan di atas sungai dengan menggunakan rakitan bambu, tujuannya hanya sekedar menghilangkan kejenuhan dan mengisi waktu kosong. Dengan menggunakan rakitan bambu ini, kita dapat terapung di atas air dan dapat menikmati lajunya perahu rakit bambu tersebut sambil menikmati pemandangan di sekitar sungai. Selain hanya sekedar menikmati pemandangan dari atas rakitan bamboo, alat ini juga dapat dipergunakan sebagai sarana membantu penyeberangan penduduk, dari sisi satu ke sisi seberang. Sebagai pengendali lajunya perahu rakitan bamboo ini adalah dengan mendorong sebuah bamboo panjang yang ditekan dan di dorong ke dasar sungai, sehingga perahu rakitan bambu tersebut dapat terdorong dan melaju kearah depan membawa beberapa penduduk.

Gagasan menjadikan perahu rakitan bambu ini menjadi sebuah permainan aktivitas fisik yang menarik dan diminati masyarakat, serta dapat dijadikan sebuah perlombaan. Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur mengemas dan mendisain sebuah perahu rakitan dari beberapa buah gallon sebagai alat pengapung perahu tersebut. Kemasan yang didisain secara baik dan memenuhi perhitungan daya apung untuk menopang beban berat lima orang di atasnya. Hal ini merupakan sebuah kemasan yang sangat menarik dan memenuhi kaidah persyaratan sebuah perlombaan. Pengembangan selanjutnya untuk kepentingan perlombaan, disusun sebuah aturan permainan perlombaan yang manarik dan tidak terlalu menyulitkan pemaian dalam mengendalikan perahu gallon tersebut.

Kondisi perahu yang didisain secara sederhana dan menggunakan bahan yang juga sangat sederhana, serta di dasari dari ide dan gagasan perahu rakit tempo dooloo, maka Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Jawa Timur sebagai penggagas terciptanya perahu ini dengan sebutan “Perahu Galon Tradisional”. Walaupun bentuk dari peralatan apung ini tidak menyerupai perahu pada umumnya, tetapi manfaat peralatan ini hampir sama dengan fungsi yang dimiliki oleh sebuah perahu, maka tetap dipakai dengan perkataan “Perahu”. Sebutan “Galon” ditujukan kepada peralatan pendukung rakit tersebut dapat terapung dengan menggunakan beberapa botol plastik penampung air mineral dengan ukuran besar, dikalangan masyarakat botol tersebut sering disebut “Galon”. Oleh sebab itu, penggunakan kata “Galon” sebagai upaya member nama alat tersebut mudah diingat. Sedangkan sebutan “Tradisional” selain dilihat dari bentuk kemasan peralatan tersebut dibuat secara sederhana dan tidak menggunakan peralatan canggih, juga diilhami dari permainan tempo dulu.

Agar permainan perahu gallon trdisional ini dapat dijadikan sebuah perlombaan, maka disusun kategori perlombaan, persyaratan, dan aturan main secara baik serta bentuk kemasannyapun sudah didisain sesuai dengan ketentuan jenis kategorinya. Dispora Provinsi Jawa Timur menetapkan dua jenis kategori yang diperlombakan, yaitu kategori “Speed” dan kategori “Fun”. Masing-masing kategori mempunyai aturan perlombaan yang berbeda dan sangat menarik untuk meningkatkan pariwisata daerah.

“Lomba Perahu Galon Tradisional” akan menjadi kegiatan rutin setiap tahun sebagai upaya memberikan alternative pilihan kepada masyarakat untuk dapat berolahraga. Karena melalui aktivitas olahraga, akan dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani. Pada akhirnya apabila capaian kesehatan dan kebugaran jasmani ini meningkat, maka juga akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas kerja dan peningkatan prestasi olahraga daerah dan nasional.